Research
Oleh DataStudi Team · 25 Juli 2026
Data & Visualisasi
Artikel ini menyertakan 1 dataset:
Lihat di bawah ↓
Jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencatat lonjakan yang luar biasa selama enam tahun terakhir. Dari 126,3 juta unit pada tahun 2018, armada kendaraan nasional melonjak menjadi 166,2 juta unit pada tahun 2024, kenaikan sekitar 31,6% atau tambahan hampir 40 juta kendaraan.
Sebagian besar armada tersebut adalah sepeda motor. Kendaraan roda dua selalu mendominasi lanskap transportasi nasional, menyumbang sekitar 84% dari total kendaraan terdaftar, sementara mobil penumpang dan mobil barang hanya membentuk porsi sisanya. Namun, pertumbuhan mobil penumpang menunjukkan akselerasi yang mengesankan, terutama di masa pascapandemi.
Sepeda motor adalah tulang punggung transportasi Indonesia. Pada 2018 tercatat 106,7 juta unit, dan angka itu tumbuh menjadi 139,5 juta unit pada 2024. Artinya, Indonesia menambah sekitar 32,8 juta sepeda motor baru dalam enam tahun, atau rata-rata hampir 5,5 juta unit per tahun.
Porsi sepeda motor terhadap total kendaraan memang sedikit turun (dari 84,5% pada 2018 menjadi 83,9% pada 2024) bukan karena sepeda motor melambat, melainkan karena mobil penumpang tumbuh lebih cepat (lihat poin berikutnya).
Kendaraan bermotor jenis ini mencatat laju pertumbuhan paling cepat dalam proporsi. Mobil penumpang naik dari 14,8 juta (2018) menjadi 20,4 juta (2024), atau +37,9%. Kenaikan yang paling mencolok terjadi pada 2021 ke 2022, ketika jumlah mobil penumpang melonjak 2,5 juta unit sekaligus (+15,4%) — sebuah pemulihan yang mencerminkan geliat ekonomi dan peningkatan daya beli masyarakat di era pascapandemi.
Armada mobil barang tumbuh dari 4,8 juta menjadi 6,3 juta unit (+30,9%). Pertumbuhan yang stabil ini sejalan dengan ekspansi sektor logistik dan perdagangan di Indonesia, yang terus mengandalkan transportasi darat untuk menjangkau ribuan pulau di seluruh Nusantara.
Tahun 2022 menjadi tahun pertambahan kendaraan yang paling besar dalam periode ini: +10 juta kendaraan dalam satu tahun (kenaikan 7,1% dari tahun sebelumnya), tertinggi di antara semua tahun pada periode 2018–2024. Lonjakan ini didorong oleh kombinasi pertumbuhan sepeda motor yang tak terpisahkan dan kebangkitan tajam mobil penumpang.
Dampak Nyata di Jalan Raya
Pertambahan 40 juta kendaraan dalam enam tahun memiliki konsekuensi nyata: kepadatan lalu lintas yang semakin tinggi, meningkatnya permintaan terhadap infrastruktur jalan, tekanan terhadap lingkungan dan emisi karbon, serta tantangan dalam manajemen pelat nomor dan sistem pajak kendaraan. Semua ini menuntut perencanaan transportasi yang lebih cerdas dan berkelanjutan.
---
Data: Kepolisian Republik Indonesia, disebarkan melalui Badan Pusat Statistik (BPS). Angka tahun 2015–2018 merupakan data revisi.
Memuat dataset...
Data Pengangguran
Berdasarkan data tingkat pengangguran terbuka di Jawa Timur dan Surabaya (2018–2025), tren yang terlihat cukup jelas: setelah melonjak drastis pada tahun 2020 akibat pandemi, angka pengangguran terbuka di kedua wilayah ini terus menurun secara konsisten. Pada 2025, tingkat pengangguran terbuka Jawa Timur (3,88%) sudah kembali hampir setara dengan level pra-pandemi, sementara Surabaya (4,84%) juga mencatat penurunan tajam dari puncak 9,79% pada 2020. Secara keseluruhan, periode 2021–2025 menunjukkan masa pemulihan yang menggembirakan, meskipun Surabaya tetap mencatatkan angka yang konsisten di atas rata-rata provinsi.
Publikasi BPS
Perekonomian Kabupaten Barito Kuala menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil secara riil dari tahun 2021 hingga tahun 2025. PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) tahun dasar 2010 memperlihatkan bahwa kenaikan nilai PDRB murni mencerminkan peningkatan volume produksi barang dan jasa, bukan akibat pengaruh kenaikan harga atau inflasi. Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas ekonomi daerah terus menguat secara berkelanjutan di seluruh komponen pengeluaran.
Sumber : Kepolisian Republik Indonesia